Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Tulisan ini dapat kita jadikan refleksi kecil bagi kita semua(pemuda muslim) pada umumnya ,khususnya di Lenteng Agung yang kebanyakan masih terlalu sibuk dengan dunia nya sendiri.
Tulisan ini dapat kita jadikan refleksi kecil bagi kita semua(pemuda muslim) pada umumnya ,khususnya di Lenteng Agung yang kebanyakan masih terlalu sibuk dengan dunia nya sendiri.
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal" QS. Al Hujurat ayat 9
Ajaran Islam tentang
pentingnya saling kenal mengenal yaitu upaya seorang manusia untuk saling
menghormati dan saling menghargai telah lama di kumandangkannya dengan sempurna
dan indah. Namun, kebanyakan dari manusia tidak menyadari apa arti sesungguhnya
dari konsep ta’aruf itu sendiri, sehingga dapat terhenti dan menyimpang dari
aturan-aturan yang telah digariskan oleh al-Quran.
Sebagaimana syair yang
mengatakan, “mawaddatuhu taduumu likulli haulin, wa hal kullun mawaddatuhu
taduumu”, kasih sayangnya (manusia) selalu kekal untuk segala hal yang
menakutkan, dan apakah setiap orang itu kasih sayangnya selalu kekal. Hal ini
karena tidak diniatkan semata karena Allah yang tidak dijadikan sebagai ladang
amal bahkan hanya untuk memperoleh keuntungan dan kesenangan duniawi saja.
Lenteng Agung merupakan salah satu wilayah yang berdomisili di Kota Jakarta Selatan. Wilayah ini mayoritas didiami oleh penduduk Muslim dan terkenal dengan ciri khas keislamannya ditunjukkan dengan banyak nya Masjid yang dibangun. Wilayah ini pun mempunyai tokoh,ulama, ustad&ustadzah yang menjadi panutan bagi warga, tersebar di berbagai wilayah di Lenteng Agung.
Namun betapa mirisnya jaman sekarang yang telah dikuasai oleh maraknya teknologi canggih sehingga pemuda-pemuda muslim khususnya di Lenteng Agung belum sepenuhnya muncul kesadaran untuk memajukan wilayah nya dengan pendidikan yang Islami melalui guru-guru mengaji karena terlalu sibuk dengan teknologi yang mereka punya. Banyak pula informasi-informasi yang ada di dunia maya yang seakan-akan menimbulkan pandangan kepada para pemuda bahwa belajar pendidikan Islam tidak harus langsung melalui guru, namun dapat pula melalui informasi yang mereka cari lewat internet. Namun hal-hal yang telah disebutkan di atas hanya beberapa faktor yang menyebabkan lemahnya kesadaran berkumpul dan melaksanakan kegiatan positif contohnya mengaji.

Diagram tersebut merupakan contoh penelitian yang pernah dilakukan remaja asal Tasikmalaya.
Jika faktor di atas terus terjadi, bukan tidak mungkin akan ada sifat individualis yang menyelimuti para pemuda muslim khususnya sehingga lupa untuk bersosialisasi dengan pemuda-pemuda muslim lainnya. Padahal proses sosialisasi begitu penting agar kontak dan komunikasi dapat tercapai.
Jika faktor di atas terus terjadi, bukan tidak mungkin akan ada sifat individualis yang menyelimuti para pemuda muslim khususnya sehingga lupa untuk bersosialisasi dengan pemuda-pemuda muslim lainnya. Padahal proses sosialisasi begitu penting agar kontak dan komunikasi dapat tercapai.
Jika dibandingkan dengan wilayah di Lenteng Agung, peran pemuda muslim dirasa belum sepenuhnya terlihat dalam mensyiarkan Islam di wilayahnya akibat sifat individualis tersebut. Yang terlihat oleh kasat mata bukanlah masjid yang dipenuhi untuk sarana berkumpul, namun pemuda sekarang selain fokus kepada teknologi yang mereka punya, mereka juga berkumpul di tempat-tempat tongkrongan sampai larut malam yang tidak jelas tujuannya untuk apa. Semua ini menjadi sinyal buruk dan pekerjaan rumah bagi tokoh-tokoh ulama yang ada agar masjid dapat dijadikan sarana berkumpul yang utama dalam menjalankan kegiatan positif. Selain bertujuan untuk meramaikan masjid, perkumpulan yang terjalin dapat pula menghangatkan tali silaturahim antar pemuda muslim yang nanti nya dapat terbentuk menjadi suatu kesatuan "Remaja Masjid".
Muncul ide dari salah satu guru mengaji kami untuk membentuk Remaja Masjid khususnya di masjid dekat rumah kami yaitu Masjid Jami Al-Barkah yang terletak di Jl.H.Zakaria. Setelah ide tersebut diutarakan kepada saya dan yang lainnya. Hal ini sontak menumbuhkan semangat baru bagi kami dan tentunya tamparan juga bagi kami. Mengapa? karena baru sekarang kami tersadar betapa besar urgensi dari Remaja Masjid.
Saya pun berharap ide pembentukan Remaja Masjid bukanlah omong kosong semata tetapi menjadi sebuah tindakan yang nyata. Urgensi nya pun sangat mendasar yaitu meramaikan masjid dan memunculkan relasi yang mempunyai kelancaran dalam berinteraksi sosial di lingkungan sekitar. Bagaimana daerah mau maju kalau pemuda nya belum kompak dalam bersosialisasi ?
Dalam sebuah tulisan ini, penulis berpesan bahwa sejatinya kita hidup tidak boleh sendiri, sifat individualis boleh ada namun harus sesuai porsi dan situasi yang terjadi. Yang dibutuhkan saat ini bagi pemuda jaman sekarang yaitu Wadah untuk berkumpul dimana sampai sekarang pun belum ada wadah yang benar-benar secara resmi terbentuk di lingkungan kami(sekitaran masjid Al-Barkah). Setelah terbentuknya wadah tersebut, tugas kita sebagai remaja yang mengedepankan nilai-nilai Islami harus mempunyai kesadaran yang sama dalam membina ukhuwah dalam belajar dan melaksanakan kegiatan positif didukung dengan kerja sama khususnya di wilayah sekitaran masjid kita tercinta(MASJID JAMI AL-BARKAH)

Mohon maaf jika ada kata yang dirasa menyinggung dan kurang berkenan di hati para pembaca.
Wassalamualaikum wr wb
Salam hangat,Nauval
Minhaj Shogir
Lenteng Agung
referensi/sumber :
http://kelompok4statistik.blogspot.co.id
http://www.duniapelajar.com/2012/02/09/interaksi-sosial-menurut-pandangan-al-quran/